Bencana alam yang menimpa negara Jepang yang terjadi pada tanggal 11 Maret 2011 pukul 15.00 waktu Tokyo telah terjadi gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang berpusat dikedalaman 24,3 km sekitar 130 km disebelah timur Sendai di pulau utama Honshu dan disusul dengan Tsunami. Bencana ini diperkirakan telah memakan korban sebanyak 2000 jiwa. Korban bencana tersebut disinyalir mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yaitu gangguan stress atau tekanan dari suatu peristiwa luar biasa yang dihadapi oleh setiap individu dimasa lalu yang dapat berakibat kecemasan.
Definisi Post Traumatic Stress Disorder
Gangguan Stress Pasca Trauma (Post Traumatic Stress Disorder) adalah reaksi maladaptif yang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. Pengalaman traumatis ini merupakan pengalaman luar biasa yang mencekam, mengerikan, dan mengancam jiwa seseorang, seperti peperangan, korban perkosaan, keorban kecelakaan hebat dan orang-orang yang telah menjadi saksi dari hancurnya rumah-rumah dan lingkungan hidup mereka oleh bencana alam, atau oleh bencana teknologis seperti tabrakan kereta api atau kecelakaan pesawat dan sebagainya.
Gangguan Stress Pasca Trauma ini kemungkinan berlangsung berbulan-bulan, bertahun-tahun atau sampai beberapa dekade dan mungkin baru muncul setelah beberapa bulan atau tahun setelah adanya pemaparan terhadap peristiwa traumatis. Individu akan didiagnosa mengalami PTSD bila setelah periode yang cukup panjang, ia tak mampu kembali ke fungsinya yang semula, dan terus dicekam oleh pengalaman-pengalaman mengganggu
Kerentanan terjadinta Post Traumatic Stress Disorder pada individu sangat tergantung pada beberapa faktor seperti resiliensi dan kerentanan terhadap efek trauma, riwayat penganiayaan seksual masa anak-anak, keparahan trauma, derajat pemaparan, ketersediaan dukungan sosial, penggunaan respon coping aktif dalam menghadapi stresor traumatis, dan perasaan malu. Dalam kaitannya dengan gender, perempuan lebih banyak mengembangkan
PTSD sebagai respon terhadap trauma meskipun pria juga sering dihadapkan pada pengalaman traumatis.
Symtom
Symtomps yang muncul pada Post Traumatic Stress disorder meliputi:
1.Ingatan atau bayangan mencengkeram tentang trauma, atau merasa seperti kejadian terjadi kembali ("Flashbacks")
2.Respon-respon fisik seperti dada berdebar, munculnya keringat dingin, lemas tubuh atau sesak nafas saat teringat atau berada dalam situasi yang mengingatkan pada kejadian
3.Kewaspadaan berlebih, kebutuhan besar untuk menjaga dan melindungi diri
4.Mudah terbangkitkan ingatannya bila ada stimulus atau rangsang yang berasosiasi dengan trauma (lokasi, kemiripan fisik atau suasana, suara dan bau, dan sebagainya).
Pada beberapa orang dapat terjadi:
1.Mimpi buruk, gangguan tidur
2.Gangguan makan: mual dan muntah, kesulitan makan, atau justru kebutuhan sangat meningkat untuk mengkonsumsi makanan
3.Ketakutan, merasa kembali berada dalam bahaya
4.Kesulitan mengendalikan emosi atau perasaan, misalnya menjadi sensitif, cepat marah, tidak sabar
5.Kesulitan untuk berkonsentrasi atau berpikir jernih.
Etiologi
1.Etiologi Psikoanalisis
Bisa disebabkan pengalaman masa lalu yang tanpa disadari individu telah membuat individu menjadi trauma dan cemas berlebihan. Dengan kata lain, ada konflik – konflik tak sadar yang tetap tinggal tersembunyi dan merembes ke syaraf kesadaran.
2.Etiologi Kognitif
Adanya cara berpikir yang terdistorsi dan disfungsional, bisa meliputi beberapa hal seperti : prediksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang self – defeating atau irasional, sensitiviras berlebihan terhadap ancaman, sensitivitas kecemasan, salah mengatribusikan sinyal – sinyal tubuh,serta self – efficacy yang rendah
3.Etiologi berdasarkan pendekatan behavioral
Etiologi terjadinya PTSD dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan behavioral dengan kerangka pikir conditioning. Dalam perspektif classical Conditioning, pengalaman traumatis berfungsi sebagai stimulus tak terkondisi yang dipasangkan dengan stimulus netral seperti sesuatu yang dilihat, suara, dan bau yang diasosiasikan dengan gambaran trauma. Pemaparan terhadap stimuli yang sama atau hampir sama memunculkan kecemasan yang diasosiasikan dengan PTSD
Pengobatan bisa termasuk psikoterapi (mendukung dan melakukan terapi) dan pemberian obat antidepresan. Pengobatan memerlukan psikoterapi (termasuk terapi kontak) dan terapi obat. Karena sering kegelisahan hebat yang dihubungkan dengan kenangan yang menggoncangkan jiwa, psikoterapi mendukung memainkan tugas yang teramat penting pada pengobatan. Ahli terapi secara terbuka berempati dan bersimpati dalam mengenal rasa sakit psikologis. Ahli terapi menenteramkan orang bahwa respon mereka nyata tetapi menganjurkan mereka menghadapi kenangan mereka (sebagai bentuk terapi kontak).
Mereka juga diajar cara untuk kegelisahan kontrol, yang menolong memodulasi dan mengintegrasikan kenangan menyiksa ke dalam kepribadian mereka. Psikoterapi insight-oriented bisa membantu orang yang merasa merasa bersalah memahami mengapa mereka menghukum diri mereka sendiri dan membantu menghilangkan perasaan bersalah. Obat antidepresi kelihatannya memberikan beberapa keuntungan. Gangguan stress posttraumatic kronis bisa tidak hilang tetapi seringkali sangat berkurang seiring waktu bahkan tanpa pengobatan. Meskipun demikian, beberapa orang menjadi cacat tetap dengan gangguan tersebut.
Ada dua macam terapi pengobatan yang dapat dilakukan penderita PTSD, yaitu dengan menggunakan farmakoterapi dan psikoterapi. Pengobatan farmakoterapi dapat berupa terapi obat hanya dalam hal kelanjutan pengobatan pasien yang sudah dikenal. Pengobatan psikoterapi. Para terapis yang sangat berkonsentrasi pada masalah PTSD percaya bahwa ada tiga tipe psikoterapi yang dapat digunakan dan efektif untuk penanganan PTSD, yaitu: anxiety management, cognitive therapy, exposure therapy .
Daftar Pustaka:
Http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=575
Http://technurlogy.wordpress.com/2010/05/31/post-traumatic-disorder-gangguan-stres-pascatrauma/
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
Minggu, 27 Maret 2011
Selasa, 15 Maret 2011
Penyesuaian Diri, Pertumbuhan Personal dan Stres
PENYESUAIAN DIRI
Definisi Penyesuaian Diri Menurut Beberapa Tokoh:
Menurut Kartono (2000), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri. Ali dan Asrori (2005) juga menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. Sebelumnya Scheneiders (dalam Yusuf, 2004), juga menjelaskan penyesuaian diri sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup. Hurlock (dalam Gunarsa, 2003) memberikan perumusan tentang penyesuaian diri secara lebih umum, yaitu bilamana seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap orang lain secara umum ataupun terhadap kelompoknya, dan ia memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan berarti ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Dengan perkataan lain, orang itu mampu menyesuaikan sendiri dengan baik terhadap lingkungannya
PERTUMBUHAN PERSONAL
Ketika orang-orang terlibat sepenuhnya dalam perjalanan Pertumbuhan pribadi mereka mengalami rasa baru kebebasan dan tujuan bahwa mereka tidak pernah sebelumnya. Personal Growth adalah, pada intinya, tentang memelihara pertumbuhan seorang individu. Kita adalah makhluk holistik dengan pikiran, tubuh, dan jiwa. Kita hidup di World mana kita semakin ditantang untuk memanfaatkan potensi penuh kita. Pertumbuhan pribadi membantu kita untuk naik ke kesempatan-untuk menjadi semua yang kita dapat dan beradaptasi dengan kecepatan kilat-perubahan dalam masyarakat. Personal Growth dan Pertumbuhan rohani sangat terjalin. Seperti kata Teilhard de Chardin, Kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia. Apakah kekuatan batin yang mendorong kita ke depan untuk terlibat dalam hidup dan segaladi sekitar kita. Pertumbuhan pribadi adalah sambungan ke bahwa kekuatan bawaan, yang memungkinkan seorang individu untuk tumbuh dan menjalani hidup dengan penuh. Banyak orang tidak menyadari atau tidak mengerti apa pertumbuhan pribadi. Pertumbuhan pribadi juga mungkin dikenal oleh mandiri, pengembangan pribadi, pengembangan diri, usia baru, dan banyak lagi.
STRES
Definisi Stres
Menurut EP. Gintings, stress adalah reksi tubuh manusia terhadap setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam beberapa hal. Pertama, keletihan dan kelelahan akibat kehidupan. Kedua, suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis baik menyenangkan maupun tidak. Ketiga, mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman. Keempat, terganggunya mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang sifatnya fisik, mental dan spiritual oleh karena perubahan yang mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan. Kelima, mengecilkan potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan, beban berat dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang.
Menurut Keith Sehnert, untuk menjelaskan arti kata stress, kita harus merujuk pada orang yang menemukan istilah itu pertama kali yaitu dr. Hans Selye. Menurut Selye “ Stres merupakan reaksi tubuh yang tidak menentu terhadap apa yang dituntut dari tubuh itu”.
Menurut Dadang Hawari, stress adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya.
Stres menurut Lazarus dan Launier adalah ketegangan fisik dan mental atau emosional karena tubuh kita merespon terhadap tuntutan, tekanan dan gangguan yang ada disekeliling kita.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stres
1. Faktor Perilaku
Faktor ini muncul ketika seseorang menjumpai stressor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu yaitu: berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stresor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
2. Faktor Psikologis
Ada tiga faktor psikologis yang terlibat. Perceived control yakni keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai stresor itu. Orang dengan internal locus of control (peristiwa yang terjadi sangat dipengaruhi oleh perilakunya) cenderung lebih mampu menghadapi stress disbanding dengan orang dengan external locus of control (peristiwa yang terjadi bergantung pada nasib, keberuntungan atau orang lain). Learned helplessness, adalah reaksi tidak berdaya akibat seringnya mengalami peristiwa yang berada diluar kendalinya. Dan Hardiness (keberanian, ketangguhan).
3. Faktor Sosial
Peristiwa penting dalam hidup seperti pernikahan atau kehilangan pekerjaan merupakan stresor social yang berpengaruh.
MANAJEMEN STRES
Tips Bagaimana Cara Mengendalikan Stres Bukan Stres Yang Mengendalikan :
Ingatlah sedikit stress justru baik untuk anda
Umpamakan stres sebagai lampu
Terima kenyataan bahwa stress bagian dari hidup
Persiapkan diri anda untuk menghadapi berbagai bentuk stress setiap hari
Hidupkan pengharapan dalam hati
Melakukan aktifitas baru
Menurut pendapat Philip L. Rice , cara yang dapat ditempuh untuk meminimalisir stress sebagai berikut:
Pertama, preventive (mencegah), untuk cara preventive ini bisa dilakukan dengan berbagai teknik, misalnya, adaptasi dengan keadaan (avoiding by adjustment)
Kedua, Combative (melawan), cara yang combative ini dapat ditempuh dengan teknik menyelesaikan masalah rill yang kita hadapi (problem solving) baik dalam bentuk mental maupun fisik, melibatkan diri sendiri saja atau melibatkan orang lain.
Daftar Pustaka
Lur Rochman Kholil, S.Ag., M.S.I. Kesehatan Mental: 2010, Purwokerto; Fajar Media Press
Sunarto & Hartono, B. Agung. (1995). Perkembangan Perserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta Wahjo Sumidjo.
http://www.kesehatanport.com/memahami-personal-growth.html
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
Definisi Penyesuaian Diri Menurut Beberapa Tokoh:
Menurut Kartono (2000), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis. Hariyadi, dkk (2003) menyatakan penyesuaian diri adalah kemampuan mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat pula mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginan diri sendiri. Ali dan Asrori (2005) juga menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar atau lingkungan tempat individu berada. Sebelumnya Scheneiders (dalam Yusuf, 2004), juga menjelaskan penyesuaian diri sebagai suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan perbuatan individu dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan, dan mengatasi ketegangan, frustasi dan konflik secara sukses serta menghasilkan hubungan yang harmonis antara kebutuhan dirinya dengan norma atau tuntutan lingkungan dimana dia hidup. Hurlock (dalam Gunarsa, 2003) memberikan perumusan tentang penyesuaian diri secara lebih umum, yaitu bilamana seseorang mampu menyesuaikan diri terhadap orang lain secara umum ataupun terhadap kelompoknya, dan ia memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan berarti ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Dengan perkataan lain, orang itu mampu menyesuaikan sendiri dengan baik terhadap lingkungannya
PERTUMBUHAN PERSONAL
Ketika orang-orang terlibat sepenuhnya dalam perjalanan Pertumbuhan pribadi mereka mengalami rasa baru kebebasan dan tujuan bahwa mereka tidak pernah sebelumnya. Personal Growth adalah, pada intinya, tentang memelihara pertumbuhan seorang individu. Kita adalah makhluk holistik dengan pikiran, tubuh, dan jiwa. Kita hidup di World mana kita semakin ditantang untuk memanfaatkan potensi penuh kita. Pertumbuhan pribadi membantu kita untuk naik ke kesempatan-untuk menjadi semua yang kita dapat dan beradaptasi dengan kecepatan kilat-perubahan dalam masyarakat. Personal Growth dan Pertumbuhan rohani sangat terjalin. Seperti kata Teilhard de Chardin, Kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia. Apakah kekuatan batin yang mendorong kita ke depan untuk terlibat dalam hidup dan segaladi sekitar kita. Pertumbuhan pribadi adalah sambungan ke bahwa kekuatan bawaan, yang memungkinkan seorang individu untuk tumbuh dan menjalani hidup dengan penuh. Banyak orang tidak menyadari atau tidak mengerti apa pertumbuhan pribadi. Pertumbuhan pribadi juga mungkin dikenal oleh mandiri, pengembangan pribadi, pengembangan diri, usia baru, dan banyak lagi.
STRES
Definisi Stres
Menurut EP. Gintings, stress adalah reksi tubuh manusia terhadap setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam beberapa hal. Pertama, keletihan dan kelelahan akibat kehidupan. Kedua, suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis baik menyenangkan maupun tidak. Ketiga, mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman. Keempat, terganggunya mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu keseimbangan dalam dan keseimbangan luar yang sifatnya fisik, mental dan spiritual oleh karena perubahan yang mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan. Kelima, mengecilkan potensi seseorang karena adanya luka-luka perasaan, beban berat dan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang.
Menurut Keith Sehnert, untuk menjelaskan arti kata stress, kita harus merujuk pada orang yang menemukan istilah itu pertama kali yaitu dr. Hans Selye. Menurut Selye “ Stres merupakan reaksi tubuh yang tidak menentu terhadap apa yang dituntut dari tubuh itu”.
Menurut Dadang Hawari, stress adalah respon tubuh yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya.
Stres menurut Lazarus dan Launier adalah ketegangan fisik dan mental atau emosional karena tubuh kita merespon terhadap tuntutan, tekanan dan gangguan yang ada disekeliling kita.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Stres
1. Faktor Perilaku
Faktor ini muncul ketika seseorang menjumpai stressor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu yaitu: berapa lamanya (duration) ia harus menghadapi stresor itu dan berapa terduganya stresor itu (predictability).
2. Faktor Psikologis
Ada tiga faktor psikologis yang terlibat. Perceived control yakni keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai stresor itu. Orang dengan internal locus of control (peristiwa yang terjadi sangat dipengaruhi oleh perilakunya) cenderung lebih mampu menghadapi stress disbanding dengan orang dengan external locus of control (peristiwa yang terjadi bergantung pada nasib, keberuntungan atau orang lain). Learned helplessness, adalah reaksi tidak berdaya akibat seringnya mengalami peristiwa yang berada diluar kendalinya. Dan Hardiness (keberanian, ketangguhan).
3. Faktor Sosial
Peristiwa penting dalam hidup seperti pernikahan atau kehilangan pekerjaan merupakan stresor social yang berpengaruh.
MANAJEMEN STRES
Tips Bagaimana Cara Mengendalikan Stres Bukan Stres Yang Mengendalikan :
Ingatlah sedikit stress justru baik untuk anda
Umpamakan stres sebagai lampu
Terima kenyataan bahwa stress bagian dari hidup
Persiapkan diri anda untuk menghadapi berbagai bentuk stress setiap hari
Hidupkan pengharapan dalam hati
Melakukan aktifitas baru
Menurut pendapat Philip L. Rice , cara yang dapat ditempuh untuk meminimalisir stress sebagai berikut:
Pertama, preventive (mencegah), untuk cara preventive ini bisa dilakukan dengan berbagai teknik, misalnya, adaptasi dengan keadaan (avoiding by adjustment)
Kedua, Combative (melawan), cara yang combative ini dapat ditempuh dengan teknik menyelesaikan masalah rill yang kita hadapi (problem solving) baik dalam bentuk mental maupun fisik, melibatkan diri sendiri saja atau melibatkan orang lain.
Daftar Pustaka
Lur Rochman Kholil, S.Ag., M.S.I. Kesehatan Mental: 2010, Purwokerto; Fajar Media Press
Sunarto & Hartono, B. Agung. (1995). Perkembangan Perserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta Wahjo Sumidjo.
http://www.kesehatanport.com/memahami-personal-growth.html
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
Senin, 07 Maret 2011
Kepribadian Sehat Menurut Rogers, Maslow, Fromm
1. Carl Rogers
a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Rogers percaya bahwa orang-orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol. Kriterium terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional dimana kepribadian terus-menerus tumbuh.
b. Peranan Positif Regard
Positive regard adalah suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki oleh semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak semua anak menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih saying, cinta dan persetujuan dari orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih saying. Apakah anak itu akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
c. Ciri Orang Yang Berfungsi
Manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Dalam masa kecil anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lain-lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept).
2. Abraham Maslow
a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Maslow berpendapat, bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang dimulai dari kebutuhan jasmaniah yang paling asasi sampai dengan kebutuhan tertinggi yakni kebutuhan estetis. Kebutuhan jasmaniah seperti makan, minum, tidur dan sex menuntut sekali untuk dipuaskan. Apabila kebutuhan ini terpuaskan, maka munculah kebutuhan keamanan seperti kebutuhan kesehatan dan kebutuhan terhindar dari bahaya dan bencana. Kebutuhan untuk memiliki cinta dan kasih, seperti dorongan untuk memiliki kawan dan bekeluarga, kebutuhan untuk menjadi anggota kelompok dan sebagainya. Ketidak mampuan seseorang ini dapat mendorong seseorang dapat berbuat lain untuk memperoleh pengakuan dan perhatian. Apabila seseorang telah dapat memenuhi semua kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah tadi, maka motivasi lalu diarahkan kepada terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengembangkan potensi atau bakat dan kecenderungan tertentu.
b. Ciri Orang Yang Berfungsi
Apabila kebutuhan-kebutuhan fisiologis kita dipenuhi maka kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi kebutuhan-kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan. Maslow percaya bahwa kita semua membutuhkan sedikit banyak sesuatu yang bersifat rutin dan dapat diramalkan. Ketidakpastian sulit dipertahankan, karena itu kita berusaha mencapai sebanyak mungkin jaminan, perlindungan, ketertiban menurut kemampuan kita.
3. Erich Fromm
a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Fromm melukiskan hakikat keadaan manusia sebagai kesepian dan ketidakberatian. (Pendirian ini tidak pesimistis, walaupun sepintas lalu kelihatannya pesimistis). Dia berbicara tentang pembagian eksistensial dan pembagian historis dalam kodrat manusia sebagai akibat dari evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, suatu proses yang membiarkan kita menjadi sungguh-sungguh bebas tetapi mengorbankan rasa aman dan rasa memiliki.
b. Ciri Orang Yang Berfungsi
Suatu masyarakat yang tidak sehat atau sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan dalam anggota-anggotanya dan merintangi pertumbuhan penuh dari setiap individu. Suatu masyarakat yang sehat membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain, menjadi produktif dan kreatif, mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran dan objektivitasnya dan mempermudah timbulnya individu-individu yang berfungsi sepenuhnya.
Daftar Pustaka:
Lur Rochman Kholil, S.Ag., M.S.I. Kesehatan Mental: 2010, Purwokerto; Fajar Media Press
Diktat Kuliah Psikologi Pertumbuhan
Psikologi Umum 1:1996: Universitas Gunadarma
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Rogers percaya bahwa orang-orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol. Kriterium terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional dimana kepribadian terus-menerus tumbuh.
b. Peranan Positif Regard
Positive regard adalah suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki oleh semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak semua anak menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih saying, cinta dan persetujuan dari orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih saying. Apakah anak itu akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh manakah kebutuhan akan positive regard ini dipuaskan dengan baik.
c. Ciri Orang Yang Berfungsi
Manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Dalam masa kecil anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lain-lainnya. Segi ini adalah diri dan itu digambarkan dengan bertambahnya penggunaan kata “aku” dan “kepunyaanku”. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept).
2. Abraham Maslow
a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Maslow berpendapat, bahwa manusia memiliki hierarki kebutuhan yang dimulai dari kebutuhan jasmaniah yang paling asasi sampai dengan kebutuhan tertinggi yakni kebutuhan estetis. Kebutuhan jasmaniah seperti makan, minum, tidur dan sex menuntut sekali untuk dipuaskan. Apabila kebutuhan ini terpuaskan, maka munculah kebutuhan keamanan seperti kebutuhan kesehatan dan kebutuhan terhindar dari bahaya dan bencana. Kebutuhan untuk memiliki cinta dan kasih, seperti dorongan untuk memiliki kawan dan bekeluarga, kebutuhan untuk menjadi anggota kelompok dan sebagainya. Ketidak mampuan seseorang ini dapat mendorong seseorang dapat berbuat lain untuk memperoleh pengakuan dan perhatian. Apabila seseorang telah dapat memenuhi semua kebutuhan yang tingkatannya lebih rendah tadi, maka motivasi lalu diarahkan kepada terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengembangkan potensi atau bakat dan kecenderungan tertentu.
b. Ciri Orang Yang Berfungsi
Apabila kebutuhan-kebutuhan fisiologis kita dipenuhi maka kita didorong oleh kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman. Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi kebutuhan-kebutuhan akan jaminan, stabilitas, perlindungan, ketertiban, bebas dari ketakutan dan kecemasan. Maslow percaya bahwa kita semua membutuhkan sedikit banyak sesuatu yang bersifat rutin dan dapat diramalkan. Ketidakpastian sulit dipertahankan, karena itu kita berusaha mencapai sebanyak mungkin jaminan, perlindungan, ketertiban menurut kemampuan kita.
3. Erich Fromm
a. Perkembangan Kepribadian ‘Self’
Fromm melukiskan hakikat keadaan manusia sebagai kesepian dan ketidakberatian. (Pendirian ini tidak pesimistis, walaupun sepintas lalu kelihatannya pesimistis). Dia berbicara tentang pembagian eksistensial dan pembagian historis dalam kodrat manusia sebagai akibat dari evolusi kita dari binatang-binatang yang lebih rendah, suatu proses yang membiarkan kita menjadi sungguh-sungguh bebas tetapi mengorbankan rasa aman dan rasa memiliki.
b. Ciri Orang Yang Berfungsi
Suatu masyarakat yang tidak sehat atau sakit menciptakan permusuhan, kecurigaan, ketidakpercayaan dalam anggota-anggotanya dan merintangi pertumbuhan penuh dari setiap individu. Suatu masyarakat yang sehat membiarkan anggota-anggotanya mengembangkan cinta satu sama lain, menjadi produktif dan kreatif, mempertajam dan memperhalus tenaga pikiran dan objektivitasnya dan mempermudah timbulnya individu-individu yang berfungsi sepenuhnya.
Daftar Pustaka:
Lur Rochman Kholil, S.Ag., M.S.I. Kesehatan Mental: 2010, Purwokerto; Fajar Media Press
Diktat Kuliah Psikologi Pertumbuhan
Psikologi Umum 1:1996: Universitas Gunadarma
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
Kepribadian Sehat ditinjau dari Aliran Psikoanalisa, Behaviouristik, Humanistik, Allport
1. Psikoanalisa
Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang disebut id, ego dan superego.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia atau disebut juga pusat insting (hawa nafsu). Ada dua insting dominan yaitu : a) libido; yaitu insting reproduktif untuk tujuan-tujuan konstruktif. Insting ini disebut juga insting kehidupan atau eros misalnya, dorongan seksual, segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan terhadap Tuhan dan cinta diri (narsisme); b) Thanatos, yaitu insting destruktif dan agresif. Insting ini disebut juga insting kematian. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan, ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Walaupun Id mampu melahirkan keinginan, tetapi ia tidak mampu memuaskan keinginannya.
Ego berfungsi menjembatani tuntutan-tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dan tuntutan rasional dan realistic. Egolah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional. Ego bekerja sebagai prinsip realitas.
Superego adalah “polisi kepribadian” yang mewakili dunia ideal. Superego adalah hatio nurani yang merupakan internalisasi dari norma-norma social dan cultural masyarakatnya. Super ego akan memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tidak berlainan kea lam bawah sadar. Baik id maupun superego berada dalam bawah sadar manusia, sedangkan ego berada ditengah, antara memenuhi desakan id dan peraturan superego. Untuk mengatasi ketegangan, ia dapat menyerah pada tuntutan id, tetapi berarti dihukum superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik atau frustasi ego secara sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, yaitu dengan mendistorsi realitas. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis, komponen psikologis dan komponen social atau unsur animal, rasional dan moral.
2. Behaviouristik
Behaviouralisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja yang dapat di ukur, dilukiskan dan diramalkan. Teori kaum behaviouralisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia, kecuali insting adalah hasil belajar. Behaviouralisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; kaum behavioralis hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh factor-faktor lingkungan. Behaviourisme sangat banyak menetukan perkembangan psikologi, terutama dalam hal eksperimen-eksperimen.
Kemudian John Locke meminjam konsep ini, yang dikenal sebagai kaum empirisme. Menurut mereka, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai warna mental. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah jalan satu-satunya kearah penguasaan pengetahuan. Secara psikologis, ini berarti bahwa seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman indrawi. Pikiran dan perasaan bukan penyebab perilaku manusia, tetapi disebabkan oleh perilaku masa lalu.
3. Humanistik
Psikologi humanistic dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisa dan behaviourisme. Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisa neo Freudian seperti Adler dan Jung serta banyak mengambil pemikiran dari fenomenologi dan eksistensialisalisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subjektif. Setiap orang mengalami dunia dengan cara sendiri. Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain. Jadi intisari dari psikologi humanism adalah bahwa pada keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya. Pandangan psikologi humanism, pada intinya adalah setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana dia menjadi pusat. Perilaku manusia bersifat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang karena melakukan sesuatu hal atau dalam mengungkapkan perasaannya, maka ia akan sering melakukannya.
4. Allport
Kepribadian-kepribadian yang matang tidak dikontol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Orang-orang yang neoristis terikat atau terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, tetapi orang-orang yang sehat bebas dari paksaan-paksaan masa lampau. Orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh intense-intensi kea rah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa depan. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandang yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak. Allport percaya bahwa sama sekali tidak ada kesamaan-kesamaan fungsional antara orang yang neoristis dan orang yang sehat. Allport mengemukakan suatu jurang atau dikotomi diantara keduanya dan salah satu diantara tipe-tipe kepribadian itu tidak memperlihatkan salah satu diantara sifat-sifat dari yang lainnya. Dalam pandangan Allport, orang yang neoristis beroperasi dalam genggaman konflik-konflik dan pengalaman-pengalaman kanak-kanak dan kepribadian yang sehat berfungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebih tinggi.
Daftar Pustaka:
Lur Rochman Kholil, S.Ag., M.S.I. Kesehatan Mental: 2010, Purwokerto; Fajar Media Press
Diktat Kuliah Psikologi Pertumbuhan
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
Menurut Freud, perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia yang disebut id, ego dan superego.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia atau disebut juga pusat insting (hawa nafsu). Ada dua insting dominan yaitu : a) libido; yaitu insting reproduktif untuk tujuan-tujuan konstruktif. Insting ini disebut juga insting kehidupan atau eros misalnya, dorongan seksual, segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan terhadap Tuhan dan cinta diri (narsisme); b) Thanatos, yaitu insting destruktif dan agresif. Insting ini disebut juga insting kematian. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan, ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Walaupun Id mampu melahirkan keinginan, tetapi ia tidak mampu memuaskan keinginannya.
Ego berfungsi menjembatani tuntutan-tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dan tuntutan rasional dan realistic. Egolah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional. Ego bekerja sebagai prinsip realitas.
Superego adalah “polisi kepribadian” yang mewakili dunia ideal. Superego adalah hatio nurani yang merupakan internalisasi dari norma-norma social dan cultural masyarakatnya. Super ego akan memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tidak berlainan kea lam bawah sadar. Baik id maupun superego berada dalam bawah sadar manusia, sedangkan ego berada ditengah, antara memenuhi desakan id dan peraturan superego. Untuk mengatasi ketegangan, ia dapat menyerah pada tuntutan id, tetapi berarti dihukum superego dengan perasaan bersalah. Untuk menghindari ketegangan, konflik atau frustasi ego secara sadar lalu menggunakan mekanisme pertahanan ego, yaitu dengan mendistorsi realitas. Secara singkat, dalam psikoanalisis perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis, komponen psikologis dan komponen social atau unsur animal, rasional dan moral.
2. Behaviouristik
Behaviouralisme ingin menganalisis hanya perilaku yang nampak saja yang dapat di ukur, dilukiskan dan diramalkan. Teori kaum behaviouralisme lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena menurut mereka seluruh perilaku manusia, kecuali insting adalah hasil belajar. Behaviouralisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; kaum behavioralis hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh factor-faktor lingkungan. Behaviourisme sangat banyak menetukan perkembangan psikologi, terutama dalam hal eksperimen-eksperimen.
Kemudian John Locke meminjam konsep ini, yang dikenal sebagai kaum empirisme. Menurut mereka, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai warna mental. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah jalan satu-satunya kearah penguasaan pengetahuan. Secara psikologis, ini berarti bahwa seluruh perilaku manusia, kepribadian dan temperamen ditentukan oleh pengalaman indrawi. Pikiran dan perasaan bukan penyebab perilaku manusia, tetapi disebabkan oleh perilaku masa lalu.
3. Humanistik
Psikologi humanistic dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Revolusi pertama dan kedua adalah psikoanalisa dan behaviourisme. Psikologi humanistic mengambil banyak dari psikoanalisa neo Freudian seperti Adler dan Jung serta banyak mengambil pemikiran dari fenomenologi dan eksistensialisalisme. Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subjektif. Setiap orang mengalami dunia dengan cara sendiri. Alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain. Jadi intisari dari psikologi humanism adalah bahwa pada keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya. Pandangan psikologi humanism, pada intinya adalah setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi dimana dia menjadi pusat. Perilaku manusia bersifat pada konsep diri, yaitu persepsi manusia tentang karena melakukan sesuatu hal atau dalam mengungkapkan perasaannya, maka ia akan sering melakukannya.
4. Allport
Kepribadian-kepribadian yang matang tidak dikontol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Orang-orang yang neoristis terikat atau terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, tetapi orang-orang yang sehat bebas dari paksaan-paksaan masa lampau. Orang-orang yang sehat dibimbing dan diarahkan oleh masa sekarang dan oleh intense-intensi kea rah masa depan dan antisipasi-antisipasi masa depan. Pandangan orang yang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandang yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak. Allport percaya bahwa sama sekali tidak ada kesamaan-kesamaan fungsional antara orang yang neoristis dan orang yang sehat. Allport mengemukakan suatu jurang atau dikotomi diantara keduanya dan salah satu diantara tipe-tipe kepribadian itu tidak memperlihatkan salah satu diantara sifat-sifat dari yang lainnya. Dalam pandangan Allport, orang yang neoristis beroperasi dalam genggaman konflik-konflik dan pengalaman-pengalaman kanak-kanak dan kepribadian yang sehat berfungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebih tinggi.
Daftar Pustaka:
Lur Rochman Kholil, S.Ag., M.S.I. Kesehatan Mental: 2010, Purwokerto; Fajar Media Press
Diktat Kuliah Psikologi Pertumbuhan
IMAS AMALIA
15509505
2PA03
Senin, 21 Februari 2011
Perilaku Asertif Pada Remaja
Pendahuluan
Kata Pengantar
Terima kasih kepada ibu dosen psikologi,temen-temen serta orang-orang yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.Kami penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Saya menerima semua kritik dan saran yang bertujuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Latar Belakang
Setiap remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah tanggung jawab pada remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Ada beberapa alasan adanya kesulitan itu. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak masalah mereka sebagian diselesaikan oleh orangtua dan guru-guru sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi masalahnya menurut cara yang mereka yakini banyak remaja akhirnya menemukan penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan.
Isi
Perilaku Asertif Pada Remaja
Dewasa ini hubungan antara perilaku asertif dan tanggung jawab pada remaja adalah ketika sesorang remaja dibebani oleh suatu perkara yang membutuhkan tanggung jawab hal ini menjadi sebuah pintu gerbang utama untuk menjadi seseorang yang siap dalam menghadapi masa dewasanya. Perlu adanya prilaku asertif dari remaja sekarang untuk mengambil keputusan.
Pola perilaku asertif dapat di pahami bila kita membandingkannya dengan dua gaya dalam merespon suatu situasi pasif dan agresif.
Perilaku pasif respon pasif bertujuan untuk menghindari konflik. Orang yang pasif tidak asertif akan mengatakan hal yang tidak sesuai dengan yang dipikirkan karena takut orang lain tidak setuju. Mereka meletakan kepentingan orang lain di atas dirinya. Dalam hubungan interpersonal mereka memiliki kecenderungan khawatir akan respon sikap orang lain terhadap dirinya sendiri dan juga orang yang pasif mungkin memandang diri sendiri sebagai korban dari manipulasi orang lain.
Perilaku Agresif bersifat menyerang orang-orang yang agresif mementingkan diri mereka sendiri tidak peduli akan pikiran, perasaan dan kebutuhan orang lain. Meskipun terdapat beberapa orang yang mengedapankan perilaku seperti ini, namun perilaku seperti ini tidak membangun hubungan yang intim-saling percaya.
Asertif berasal dari kata asing to assert yang berarti menyatakan dengan tegas. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.
Perilaku asertif didefinisikan sebagai berikut
1. Perilaku Pasif
Respon pasif bertujuan untuk menghindari konflik dengan cara apapun. Orang yang pasif atau tidak asertif akan mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena takut orang lain tidak setuju. Individu yang pasif ‘bersembunyi’ dari orang lain dan menunggu orang lain memulai percakapan. Mereka meletakkan kepentingan atau keinginan orang lain diatas dirinya. Dalam suatu hubungan dengan orang lain, mereka cenderung gelisah, khawatir bagaimana orang lain akan bereaksi kepada mereka dan memiliki kebutuhan yang tinggi untuk disetujui. Masalah akan muncul ketika orang yang bersifat pasif secara rahasia merasa marah dan benci kepada orang lain. Orang yang pasif mungkin memandang diri mereka sendiri sebagai korban manipulasi oleh orang lain. Cara pandang yang seperti inilah merusak kepercayaan diri mereka.
2. Perilaku Agresif
Pada suatu situasi konflik, orang yang agresif ingin selalu “menang” dengan cara mendominasi atau mengintimidasi orang lain. Orang yang agresif memajukan kepentingannya sendiri atau sudut pandangnya sendiri tetapi tidak peduli atau “kejam” terhadap perasaan, pemikiran, dan kebutuhan orang lain. Cara agresi ini sering berhasil karena orang lain mengalah untuk menghindari konflik yang lebih buruk atau berkepanjangan. Karena perilaku agresif dapat memberikan efek yang menguntungkan dalam jangka pendek, seseorang bisa enggan untuk tidak menggunakan strategi yang agresif. Seringkali orang-orang yang cenderung untuk menggunakan strategi agresif untuk mencapai tujuannya, memiliki sudut pandang yang menyimpang misalnya bahwa mereka merasa dirinya terus menerus dalam situasi yang terancam, diserang secara personal, atau merasa diganggu oleh orang lain yang menghalangi usahanya. Individu seperti itu mudah marah dan frustasi. Mereka nampaknya percaya bahwa mereka seharusnya tidak merasakan frustasi. Bukannya secara rasional menganggap suatu kejadian sebagai kekecewaan, orang yang agresif meresponnya dengan kemarahan. Bukannya membantu menyelesaikan masalah, mereka malah “meluapkan apa yang ada di dalam dada” meningkatkan kemarahan dan serangan. Pada awalnya orang lain mungkin menyerah akibat intimidasi oleh individu yang
bersikap agresif, mereka juga bisa bertindak dengan cara yang halus untuk membalas.
Sebagai contoh, pasien yang merasa tidak diperlakukan dengan baik pada suatu apotek mungkin tidak akan kembali ke apotek tersebut dan mungkin memberitahukan teman-temannya mengenai pengalaman buruknya. Para pekerja yang merasa putus asa dan dinilai rendah dapat mensabotase tujuan atasan mereka dengan cara yang beragam dan tidak langsung. Jadi, individu agresif mungkin memenangkan suatu pertarungan pribadi antar-individu dalam jangka pendek, tetapi perilakunya ini sering membawa konsekuensi negatif dalam jangka panjang. Sayangnya, banyak aspek budaya kita (media, televisi, film, dan politisi) yang mendukung pemikiran bahwa cara untuk mencapai apa yang diinginkan adalah dengan menggunakan perilaku agresif. Anda memaksakan kepentingan pribadi anda tanpa memperhatikan perspektif individu lain. Meskipun seseorang mungkin memperoleh tujuan pribadi mereka dengan menggunakan pendekatan agresif, strategi ini tidak membangun hubungan yang saling percaya, yang merupakan unsur utama dalam bekerja dengan pasien dan orang lain pada pekerjaan profesional kita. Jadi, agar lebih efektif dalam jangka panjang, Anda harus belajar bagaimana memfokuskan energi anda untuk menggunakan perilaku yang asertif dan bukan agresif.
3. Perilaku Asertif
Perilaku asertif adalah menyatakan secara langsung suatu ide, opini, dan keinginan. Tujuan perilaku asertif adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu pada suasana saling percaya. Konflik yang muncul dihadapi dan solusi dicari yang menguntungkan semua pihak. Individu yang asertif memulai komunikasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan kepedulian dan rasa penghargaan mereka terhadap orang lain. Tujuan komunikasi ini adalah untuk mengungkapkan pendapat diri sendiri dan untuk menyelesaikan masalah interpersonal tanpa merusak suatu hubungan. Perilaku asertif mengharuskan kita untuk menghormati orang lain sebagaimana kita menghormati diri sendiri.
Faktor penting untuk menjadi individu asertif adalah kemampuan untuk bertindak secara konsisten sesuai standar yang kita miliki untuk perilaku kita sendiri. Ketika kita mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa orang lain “membuat” kita merasa atau bertindak dengan cara tertentu, kita tidak bertanggung jawab terhadap perilaku kita sendiri. Bukannya mengubah diri sendiri, kita mencoba (tanpa kekuasaan) membuat orang lain untuk berubah. Namun satu-satunya kekuasaan yang kita miliki untuk menghasilkan suatu perubahan pada hubungan apapun adalah mengubah perilaku kita sendiri.
Penelitian membuktikan bahwa dibutuhkan beberapa keterampilan untuk dapat berkomunikasi secara asertif. Termasuk untuk memulai dan memelihara percakapan, mendorong perilaku asertif pada orang lain, merespon kritik dengan tepat, menyampaikan umpan balik negatif yang dapat diterima, mengungkapkan penghargaan atau kegembiraan, membuat permintaan, memberi batasan atau menolak permintaan, menyampaikan kepercayaan/keyakinan diri secara verbal dan non-verbal, dan mengungkapkan pendapat dan perasaan dengan tepat.
Teknik – Teknik Dalam Bertindak Asertif
1. Memberikan Umpan Balik
Memberikan umpan balik yang jujur ketika anda mendapat reaksi yang negatif karena perilaku orang lain memang sulit dilakukan tanpa menyakiti perasaan. Sering kali memperbaiki hubungan anda dalam waktu jangka panjang. Anda harus menyatakan bahwa anda telah kecewa pada apa yang mereka lakukan.
2. Meminta Umpan Balik dari Orang Lain
Kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat, kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita.
3. Menentukan Batasan
Bertindak asertif dalam menetukan batasan berarti anda mengampil tanggung jawab untuk keputusan yang anda ambil mengenai bagaimana menghabiskan sumber daya pribadi anda tanpa merasa marah kepada orang lain.
4. Membuat Permintaan
Meminta sesuatu yang anda inginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada hubungan yang sehat. Kita harus percaya bahwa orang lain akan dapat merespon permintaan kita secara asertif, termasuk berkata “tidak”. Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif.
5. Berlaku Persisten
Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hak-hak anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata “tidak’, kemudian orang-orang tersebut akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita mengulangi lagi menyatakan keputusan kita dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon ini, mengulangi menyatakan keputusan tadi dengan santai. Respon seperti ini akan menghentika bahkan orang yang paling manipulatif, tanpa menimbulkan rasa bersalah atau meningkatkan konflik.
6. Membingkai Kembali
Bingkai adalah jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal.
7. Mengabaikan Provokasi
Konflik interpersonal antara profesional-profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi. Mengabaikan komentar yang bersifat mencela dari orang lain dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat ke arah yang dapat merusak hubungan.
8. Merespon Kritik
Mulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.
Dasar Teori
Pelatihan untuk membangun perilaku asertif dan teori-teori mengenai bagaimana orang merespon dengan cara pasif atau agresif didasarkan pada teori kognitif dan psikologi tingkah laku. Pakar tingkah laku percaya bahwa respon pasif atau agresif mendapat dukungan atau penghargaan sehingga cara merespon demikian menjadi lebih banyak digunakan. Perilaku agresif sering berhasil dalam jangka pendek, karena orang lain merasa terintimidasi dan membiarkan orang yang agresif mendapatkan apa yang mereka inginkan. Perilaku pasif diperkuat ketika suatu individu dapat kabur atau bahkan menghindari konflik dan dengan demikian dapat terlepas dari kegelisahan yang menyertai konflik tersebut. Teori kognitif percaya bahwa pengertian dan kepercayaan yang tidak tepat mengenai cara merespon konflik secara pasif atau agresif yang membuat orang tidak mendukung perilaku asertif.
Sumber
Http://book.store.co.id/kesehatanmental-konsepdanperilakuasertif.Buku7787.html
Http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1854941-kesehatan-mental-remaja/
Kata Pengantar
Terima kasih kepada ibu dosen psikologi,temen-temen serta orang-orang yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.Kami penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, masih banyak kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Saya menerima semua kritik dan saran yang bertujuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Latar Belakang
Setiap remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah tanggung jawab pada remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Ada beberapa alasan adanya kesulitan itu. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak masalah mereka sebagian diselesaikan oleh orangtua dan guru-guru sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Karena ketidakmampuan mereka untuk mengatasi masalahnya menurut cara yang mereka yakini banyak remaja akhirnya menemukan penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan.
Isi
Perilaku Asertif Pada Remaja
Dewasa ini hubungan antara perilaku asertif dan tanggung jawab pada remaja adalah ketika sesorang remaja dibebani oleh suatu perkara yang membutuhkan tanggung jawab hal ini menjadi sebuah pintu gerbang utama untuk menjadi seseorang yang siap dalam menghadapi masa dewasanya. Perlu adanya prilaku asertif dari remaja sekarang untuk mengambil keputusan.
Pola perilaku asertif dapat di pahami bila kita membandingkannya dengan dua gaya dalam merespon suatu situasi pasif dan agresif.
Perilaku pasif respon pasif bertujuan untuk menghindari konflik. Orang yang pasif tidak asertif akan mengatakan hal yang tidak sesuai dengan yang dipikirkan karena takut orang lain tidak setuju. Mereka meletakan kepentingan orang lain di atas dirinya. Dalam hubungan interpersonal mereka memiliki kecenderungan khawatir akan respon sikap orang lain terhadap dirinya sendiri dan juga orang yang pasif mungkin memandang diri sendiri sebagai korban dari manipulasi orang lain.
Perilaku Agresif bersifat menyerang orang-orang yang agresif mementingkan diri mereka sendiri tidak peduli akan pikiran, perasaan dan kebutuhan orang lain. Meskipun terdapat beberapa orang yang mengedapankan perilaku seperti ini, namun perilaku seperti ini tidak membangun hubungan yang intim-saling percaya.
Asertif berasal dari kata asing to assert yang berarti menyatakan dengan tegas. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.
Perilaku asertif didefinisikan sebagai berikut
1. Perilaku Pasif
Respon pasif bertujuan untuk menghindari konflik dengan cara apapun. Orang yang pasif atau tidak asertif akan mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan karena takut orang lain tidak setuju. Individu yang pasif ‘bersembunyi’ dari orang lain dan menunggu orang lain memulai percakapan. Mereka meletakkan kepentingan atau keinginan orang lain diatas dirinya. Dalam suatu hubungan dengan orang lain, mereka cenderung gelisah, khawatir bagaimana orang lain akan bereaksi kepada mereka dan memiliki kebutuhan yang tinggi untuk disetujui. Masalah akan muncul ketika orang yang bersifat pasif secara rahasia merasa marah dan benci kepada orang lain. Orang yang pasif mungkin memandang diri mereka sendiri sebagai korban manipulasi oleh orang lain. Cara pandang yang seperti inilah merusak kepercayaan diri mereka.
2. Perilaku Agresif
Pada suatu situasi konflik, orang yang agresif ingin selalu “menang” dengan cara mendominasi atau mengintimidasi orang lain. Orang yang agresif memajukan kepentingannya sendiri atau sudut pandangnya sendiri tetapi tidak peduli atau “kejam” terhadap perasaan, pemikiran, dan kebutuhan orang lain. Cara agresi ini sering berhasil karena orang lain mengalah untuk menghindari konflik yang lebih buruk atau berkepanjangan. Karena perilaku agresif dapat memberikan efek yang menguntungkan dalam jangka pendek, seseorang bisa enggan untuk tidak menggunakan strategi yang agresif. Seringkali orang-orang yang cenderung untuk menggunakan strategi agresif untuk mencapai tujuannya, memiliki sudut pandang yang menyimpang misalnya bahwa mereka merasa dirinya terus menerus dalam situasi yang terancam, diserang secara personal, atau merasa diganggu oleh orang lain yang menghalangi usahanya. Individu seperti itu mudah marah dan frustasi. Mereka nampaknya percaya bahwa mereka seharusnya tidak merasakan frustasi. Bukannya secara rasional menganggap suatu kejadian sebagai kekecewaan, orang yang agresif meresponnya dengan kemarahan. Bukannya membantu menyelesaikan masalah, mereka malah “meluapkan apa yang ada di dalam dada” meningkatkan kemarahan dan serangan. Pada awalnya orang lain mungkin menyerah akibat intimidasi oleh individu yang
bersikap agresif, mereka juga bisa bertindak dengan cara yang halus untuk membalas.
Sebagai contoh, pasien yang merasa tidak diperlakukan dengan baik pada suatu apotek mungkin tidak akan kembali ke apotek tersebut dan mungkin memberitahukan teman-temannya mengenai pengalaman buruknya. Para pekerja yang merasa putus asa dan dinilai rendah dapat mensabotase tujuan atasan mereka dengan cara yang beragam dan tidak langsung. Jadi, individu agresif mungkin memenangkan suatu pertarungan pribadi antar-individu dalam jangka pendek, tetapi perilakunya ini sering membawa konsekuensi negatif dalam jangka panjang. Sayangnya, banyak aspek budaya kita (media, televisi, film, dan politisi) yang mendukung pemikiran bahwa cara untuk mencapai apa yang diinginkan adalah dengan menggunakan perilaku agresif. Anda memaksakan kepentingan pribadi anda tanpa memperhatikan perspektif individu lain. Meskipun seseorang mungkin memperoleh tujuan pribadi mereka dengan menggunakan pendekatan agresif, strategi ini tidak membangun hubungan yang saling percaya, yang merupakan unsur utama dalam bekerja dengan pasien dan orang lain pada pekerjaan profesional kita. Jadi, agar lebih efektif dalam jangka panjang, Anda harus belajar bagaimana memfokuskan energi anda untuk menggunakan perilaku yang asertif dan bukan agresif.
3. Perilaku Asertif
Perilaku asertif adalah menyatakan secara langsung suatu ide, opini, dan keinginan. Tujuan perilaku asertif adalah untuk mengkomunikasikan sesuatu pada suasana saling percaya. Konflik yang muncul dihadapi dan solusi dicari yang menguntungkan semua pihak. Individu yang asertif memulai komunikasi dengan cara sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan kepedulian dan rasa penghargaan mereka terhadap orang lain. Tujuan komunikasi ini adalah untuk mengungkapkan pendapat diri sendiri dan untuk menyelesaikan masalah interpersonal tanpa merusak suatu hubungan. Perilaku asertif mengharuskan kita untuk menghormati orang lain sebagaimana kita menghormati diri sendiri.
Faktor penting untuk menjadi individu asertif adalah kemampuan untuk bertindak secara konsisten sesuai standar yang kita miliki untuk perilaku kita sendiri. Ketika kita mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa orang lain “membuat” kita merasa atau bertindak dengan cara tertentu, kita tidak bertanggung jawab terhadap perilaku kita sendiri. Bukannya mengubah diri sendiri, kita mencoba (tanpa kekuasaan) membuat orang lain untuk berubah. Namun satu-satunya kekuasaan yang kita miliki untuk menghasilkan suatu perubahan pada hubungan apapun adalah mengubah perilaku kita sendiri.
Penelitian membuktikan bahwa dibutuhkan beberapa keterampilan untuk dapat berkomunikasi secara asertif. Termasuk untuk memulai dan memelihara percakapan, mendorong perilaku asertif pada orang lain, merespon kritik dengan tepat, menyampaikan umpan balik negatif yang dapat diterima, mengungkapkan penghargaan atau kegembiraan, membuat permintaan, memberi batasan atau menolak permintaan, menyampaikan kepercayaan/keyakinan diri secara verbal dan non-verbal, dan mengungkapkan pendapat dan perasaan dengan tepat.
Teknik – Teknik Dalam Bertindak Asertif
1. Memberikan Umpan Balik
Memberikan umpan balik yang jujur ketika anda mendapat reaksi yang negatif karena perilaku orang lain memang sulit dilakukan tanpa menyakiti perasaan. Sering kali memperbaiki hubungan anda dalam waktu jangka panjang. Anda harus menyatakan bahwa anda telah kecewa pada apa yang mereka lakukan.
2. Meminta Umpan Balik dari Orang Lain
Kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat, kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita.
3. Menentukan Batasan
Bertindak asertif dalam menetukan batasan berarti anda mengampil tanggung jawab untuk keputusan yang anda ambil mengenai bagaimana menghabiskan sumber daya pribadi anda tanpa merasa marah kepada orang lain.
4. Membuat Permintaan
Meminta sesuatu yang anda inginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada hubungan yang sehat. Kita harus percaya bahwa orang lain akan dapat merespon permintaan kita secara asertif, termasuk berkata “tidak”. Jadi, kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif.
5. Berlaku Persisten
Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hak-hak anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata “tidak’, kemudian orang-orang tersebut akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita mengulangi lagi menyatakan keputusan kita dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon ini, mengulangi menyatakan keputusan tadi dengan santai. Respon seperti ini akan menghentika bahkan orang yang paling manipulatif, tanpa menimbulkan rasa bersalah atau meningkatkan konflik.
6. Membingkai Kembali
Bingkai adalah jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal.
7. Mengabaikan Provokasi
Konflik interpersonal antara profesional-profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi. Mengabaikan komentar yang bersifat mencela dari orang lain dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat ke arah yang dapat merusak hubungan.
8. Merespon Kritik
Mulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.
Dasar Teori
Pelatihan untuk membangun perilaku asertif dan teori-teori mengenai bagaimana orang merespon dengan cara pasif atau agresif didasarkan pada teori kognitif dan psikologi tingkah laku. Pakar tingkah laku percaya bahwa respon pasif atau agresif mendapat dukungan atau penghargaan sehingga cara merespon demikian menjadi lebih banyak digunakan. Perilaku agresif sering berhasil dalam jangka pendek, karena orang lain merasa terintimidasi dan membiarkan orang yang agresif mendapatkan apa yang mereka inginkan. Perilaku pasif diperkuat ketika suatu individu dapat kabur atau bahkan menghindari konflik dan dengan demikian dapat terlepas dari kegelisahan yang menyertai konflik tersebut. Teori kognitif percaya bahwa pengertian dan kepercayaan yang tidak tepat mengenai cara merespon konflik secara pasif atau agresif yang membuat orang tidak mendukung perilaku asertif.
Sumber
Http://book.store.co.id/kesehatanmental-konsepdanperilakuasertif.Buku7787.html
Http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1854941-kesehatan-mental-remaja/
Sabtu, 19 Februari 2011
Gadis - Perempuan
Aku bukanlah seseorang yang bijak
Dan aku bukanlah seseorang yang dewasa
Aku hanya mencoba untuk menjadi sempurna
Sesempurnanya bidadari
Ini aku,
Aku yang seorang gadis
Seorang gadis yang belajar menjadi perempuan
Dan ku akui itu semua tidaklah mudah
Semudah membalikkan telapak tangan
Tapi, hei!!
Ini bukan akhir, mungkin ini awal
Awal dari kisah panjangku menjadi perempuan
Masih banyak waktu untuk merubahnya
Ini sebuah harapan, tapi bukan harapan yang terpendam
Namun akan terus ku gali harapan itu hingga tumbuh menjadi kenyataan
Kenyataan yang akan semua orang lihat
Kenyataan yang akan ku tunjukkan
Kenyataan yang akan ku berikan senyuman
Dan aku bukanlah seseorang yang dewasa
Aku hanya mencoba untuk menjadi sempurna
Sesempurnanya bidadari
Ini aku,
Aku yang seorang gadis
Seorang gadis yang belajar menjadi perempuan
Dan ku akui itu semua tidaklah mudah
Semudah membalikkan telapak tangan
Tapi, hei!!
Ini bukan akhir, mungkin ini awal
Awal dari kisah panjangku menjadi perempuan
Masih banyak waktu untuk merubahnya
Ini sebuah harapan, tapi bukan harapan yang terpendam
Namun akan terus ku gali harapan itu hingga tumbuh menjadi kenyataan
Kenyataan yang akan semua orang lihat
Kenyataan yang akan ku tunjukkan
Kenyataan yang akan ku berikan senyuman
Semua Yang Datang Akan Pergi
Ini bukan cerita Romeo dan Juliet
Ini juga bukan cerita Rama dan Shinta
Apa lagi cerita tentang Putri dan Pangeran
Ini kisah kita
Kamu dan Aku
Kisah yang aneh, rumit dan mungkin tidak indah
Kisah yang hanya dibaluti oleh seberkas mimpi
Terkadang mimpi itu bisa jadi indah
Tapi sekejap mimpi itu bisa jadi buruk
Aku bukanlah seseorang yang sempurna sayang
Apalagi memiliki hati seperti malaikat
Dan aku juga bukan wanita bodoh yang selalu berharap
Karna bagiku harapan hanya sebuah mimpi
Mimpiku untuk memiliki kamu
Aku sadar sesadar-sadarnya
Semua yang datang akan pergi
Karna tidak ada yang diciptakan selalu abadi
Begitu juga dengan perasaan ini
Perasaan yang sudah lelah untuk menanti
Terima kasih sayang
Biarpun singkat,
kamu membuat seorang gadis mengerti apa itu arti cinta yang sebenarnya
Cinta yang tulus tanpa pamrih
Dan cinta yang tidak harus memiliki
Ini juga bukan cerita Rama dan Shinta
Apa lagi cerita tentang Putri dan Pangeran
Ini kisah kita
Kamu dan Aku
Kisah yang aneh, rumit dan mungkin tidak indah
Kisah yang hanya dibaluti oleh seberkas mimpi
Terkadang mimpi itu bisa jadi indah
Tapi sekejap mimpi itu bisa jadi buruk
Aku bukanlah seseorang yang sempurna sayang
Apalagi memiliki hati seperti malaikat
Dan aku juga bukan wanita bodoh yang selalu berharap
Karna bagiku harapan hanya sebuah mimpi
Mimpiku untuk memiliki kamu
Aku sadar sesadar-sadarnya
Semua yang datang akan pergi
Karna tidak ada yang diciptakan selalu abadi
Begitu juga dengan perasaan ini
Perasaan yang sudah lelah untuk menanti
Terima kasih sayang
Biarpun singkat,
kamu membuat seorang gadis mengerti apa itu arti cinta yang sebenarnya
Cinta yang tulus tanpa pamrih
Dan cinta yang tidak harus memiliki
Langganan:
Postingan (Atom)